Menciptakan Rutinitas Sehat pada Anak |
MENCOBA mencari cara untuk membangun rutinitas anak-anak Anda? Cari tahu mengapa aturan dan kegiatan rutin untuk anak-anak adalah penting dan bagaimana untuk menyusun jadwal yang tepat tanpa membebani anak? Mia Sparks yang baru berusia dua tahun suka sekali saat disuruh mandi karena ada tiga tahap proses dalam membasuhnya. Dia suka pertama kali rambutnya dicuci,kemudian lengannya, lalu tubuhnya, dan terakhir kakinya.Ketika agenda mandinya tidak berjalan sesuai urutan, balita ini akan menjerit dan menangis. “Ketika saya bertanya kepada ibu mertua saat memandikan dia, Mia menjerit kencang karena cara yang dilakukannya tidak melalui tiga tahap. Ibu juga membasuh tubuhnya terlebih dahulu,mungkin tidak dengan sabun yang tepat,”kata ibu dari Mia,Masako. Kehidupan Mia seterusnya memang sangat tertib, tidak hanya pada saat mandi. Seperti juga ritual tidur, termasuk jumlah buku yang dibaca kepadanya yaitu dua buah. Jadwalnya yang sangat rinci dan teratur tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. “ Dia seperti seorang malaikat ketika sesuatu hal berjalan persis seperti yang dia harapkan.Jadi,setiap hari berjalan normal jika saya dapat menjaga rutinitas,”tutur Masako. Sementara Darien,seorang ibu yang bermukim di Connecticut, Amerika Serikat, mengutarakan bahwa “Saya rasa memiliki rutinitas yang ketat telah membuat (anak saya) agak kaku,”. Karena itu,pentingkah sebenarnya sebuah rutinitas bagi anak? Sejatinya,rutinitas membantu Anda mengurangi kekacauan jadwal dan bertujuan mengorganisir kehidupan anak. Kebanyakan orang tua membuat rutinitas anaknya untuk melingkupi dua kebutuhan dasar seorang anak,yaitu persoalan nutrisi dan kebutuhan tidur. Lainnya, seperti Masako, menerapkan jadwal untuk mengatur waktu anak bermain, mandi, dan membaca. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan sedikit pengaturan dan ketertiban dalam rumah. Pada tingkat perkembangan, rutinitas membantu anak, bahkan seorang bayi, mengelola dunia di sekitar mereka.“Anak-anak melakukan semuanya dengan baik ketika mereka memiliki lingkungan yang bisa diprediksi. Mereka harus belajar apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Dr Kurt Fischer PhD, Direktur Mind, Brain, and Education Program di Harvard Graduate School of Education, Amerika Serikat. “Jika Anda terus-menerus mencoba untuk mencari tahu apa saja aturan yang akan dibuat, bagaimana jadwal yang baik, maka keteraturan akan terjadi. Anda tidak akan memiliki kebebasan untuk bereksplorasi dan bermain lagi (dengan aturan itu),” lanjutnya seperti dikutip laman babyzone.com. Aturan,seperti juga rutinitas,musti menyediakan kenyamanan dengan mengutamakan apa yang mereka inginkan. Dr Roberta Michnick Golinkoff PhD,seorang profesor psikologi dan linguistik di University of Delaware yang telah melakukan penelitian yang luas tentang bagaimana anakanak belajar mengatakan bahwa sebuah prediksi dapat memberdayakan anak-anak.“Begitu banyak hal yang terjadi dalam kehidupan Anda dan Anda tidak memiliki kontrol terhadap hal tersebut,”katanya. “Jadi,jika Anda dapat membuat prediksi seperti,‘Saya tahu setelah makan saya akan turun untuk tidur siang, dan saya pasti kelelahan’, mungkin itu tidak akan menjadi begituburuk,”kataGolinkoff.Seperti juga boneka beruang favorit, rutinitas dapat memberikan kenyamanandankeamananuntukseorang anak yang sedang mencoba untuk memahami dan mengarahkan dunia asing yang mengelilinginya. Anda bisa memasukkan rutinitas sejumlah kegiatan dalam jadwal anak. Namun, kalau Anda terlalu kaku dalam menegakkan rutinitas dan aturan, Anda mungkin dapat melumpuhkan spontanitas anakanak, fleksibilitas, dan mungkin bahkan kreativitas mereka. Dalam buku barunya Einstein Never Used Flash Cards, Golinkoff dan penulis pendamping Kathy Hirsh-Pasek mencium adanya kecenderungan pengasuhan yang terlalu berlebihan dan jadwal yang ketat. “Jika Anda mengatur semuanya seperti waktu setengah jam untuk bermain, setengah jam untuk pelajaran ini, setengah jam untuk pelajaran itu,maka tentu hal ini dapat mempengaruhi spontanitas anak Anda,”ujar Golinkoff. Dia menyarankan orang tua untuk mengaturnya lebih baik dan bijaksana. “Anda tentu ingin anak-anak untuk belajar bagaimana untuk menghibur dirinya sendiri.Itu adalah kuncinya,”kata Golinkoff. Hal itu dapat mengajarkan mereka untuk menggunakan imajinasinya untuk mencari tahu apa seperti apa sumber daya yang mereka miliki.“Anda saja pasti tidak mau selalu diberi tahu apa yang harus Anda lakukan,dengan siapa harus bermain,dan bagaimana Anda bertindak. Anda harus memiliki beberapa waktu spontan sehingga Anda bisa belajar bagaimana hebatnya Anda,”ujar Golinkoff. Seorang anak yang terbelenggu dalam rutinitas yang terlalu banyak dan aturan yang ketat tidak mungkin dapat “mengikuti arus” ketika sebuah situasi memanggil untuk itu. Dr Richard Gallagher PhD, Direktur Parenting Institute di New York University’s Child Study Center mengatakan, kadang- kadang mengikuti arus akan berkontribusi pada situasi di mana anak-anak tidak terlalu mudah beradaptasi. Masako mengungkapkan, seperti juga kasusnya dengan sang buah hati,Mia. “Saya pikir dia tidak hidup sesantai seperti beberapa temannya, yang mungkin juga menjalankan rutinitas secara genetik atau alami.Dan pasti juga,dia tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru seperti yang saya harapkan,” tuturnya. (rendra hanggara) -Sinta-Buana - |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar